Racikan Ole Belum Sepenuhnya Oke

Sepak Bola —Rabu, 3 Nov 2021 11:44
    Bagikan  
Racikan Ole Belum Sepenuhnya Oke
Racikan Ole Belum Sepenuhnya Oke - Twitter

DEPOSTPANGANDARAN - KEMENANGAN meyakinkan 3-0 di kandang Tottenham Hotspur, akhir pekan kemarin seperti memperpanjang “nyawa” Ole Gunnar Solskjaer.

Setidak-tidaknya, tak akan secepat itu manajemen Manchester United mempertimbangkan pemecatan untuk menggantikannya dengan Antonio Conte atau siapa pun pelatih yang sudah dispekulasikan. Namun, sudah betul-betul amankah masa depan pelatih asal Norwegia itu di almamaternya?

Solskjaer belum menyerah. Dan, dia memang tidak sepatutnya menyerah. Namun, satu realitas terbaca jelas: racikan Ole belum sepenuhnya oke.

Simaklah apa yang dia ungkapkan kepada BBC selepas kemenangan di Stadion Tottenham Hotspur. Dia masih belum move on dari kekalahan 0-5 di Old Trafford dari Liverpool, sepekan sebelumnya, “Hasil itu akan selalu ada dalam buku sejarah klub, salah satu hari paling suram. Itu adalah noda dalam

sejarah kami. Tepi sejarah dalam sepak bola bergulir cepat”.

“Kami berlatih keras sepanjang pekan ini. Para pemain luar biasa, mereka mampu bermain dengan baik,” tambahnya.

Ketika dihumbalangkan Liverpool, kepada Manchester Evening News, Solskjaer mengatakan, “Saya sudah melangkah terlalu jauh, kami telah melangkah terlalu jauh sebagai sebuah kelompok. Terlalu dekat untuk menyerah sekarang”.

Baca juga: Drama Korea Inspector Koo / A Wonderfull Wath, Kisah Penuh Investigasi

Baca juga: Wisata Mata Air Cibarani Ciamis yang Konon Bisa Menyembuhkan Penyakit

Dia melanjutkan, “Ini memang sulit. Para pemain akan terpuruk, namun ada banyak karakter di sana. Kami tahu sedang dalam titik terendah, kami tidak bisa merasakan yang lebih buruk lagi daripada ini”.

“Ini adalah perasaan yang terburuk. Kemenangan tidak kunjung datang, penampilan bagus tak kunjung tampak, kami kebobolan terlalu banyak gol, terlalu banyak gol mudah, dan itu adalah sebuah kekhawatiran...”

Banyak yang bsrspekulasi, setelah kekalahan memalukan itu Solskjaer akan mengundurkan diri atau dipecat, namun ia tetap mencoba bertahan.

“Saya tidak mendengar hal lain (tentang masa depan saya), dan saya masih memikirkan tentang pekerjaan besok. Tentu saja kami semua terpuruk, saya tidak bisa mengatakannya sekarang pernah mengalami hal buruk lebih dari ini, ini adalah yang terburuk, yang terendah yang pernah saya alami. Tetapi saya menerima tanggung jawabnya, dan tanggung jawab itu adalah milik saya pada hari ini dan ke depannya...”

Baca juga: Resep Makanan Enak, Cara Membuat Chicken Curry Ramen dengan Bumbu Rumahan

Baca juga: The Great Asia Africa is a Tourist Destination in Lembang

Belum Beridentitas

 Salah satu kritik yang menerpa, Solskjaer belum mampu membentuk identitas permainan MU yang “khas Solskjaer”, seperti dulu orang mengenal Setan Merah dengan “identitas Alex Ferguson”. Padahal semua agenda pembelian pemain yang diingini telah terpenuhi. Namun bahkan sejumlah pemain bintang “hilang” di tengah “kemelut karakter” itu.

Ya, ke mana Danny van de Beek? Kemana pula Jadon Sancho yang digadang-gadang menjadi pusat kekuatan ofensif MU?

Saat menghadapi Mohamed Salah dkk, Pasukan Theatre of Dream bagai kehilangan arah. Di rumah sendiri, para bintang Cristiano Ronaldo, Marcus Rashford, Mason Greenwood, Paul Pogba, dan Harry Maguire tak kuasa keluar dari gegenpressing Juergen Klopp.

Sebelum menaklukkan Topttenham Hotspur, tanda tanya pun mengemuka: inikah pertanda karam bahtera Ole Gunnar Solskjaer?

Ditilik dari sejarah, sebenarnya takkan ada akhir kebersamaan relasi sang pelatih dengan keluarga besar MU. Dia akan tetap tercatat sebagai legenda klub. Si Super-Sub ini punya posisi tersendiri. Bersama Teddy Sheringham, dia menciptakan akhir ajaib dalam final Liga Champions 1999, menciuptakan gol pembalikan untuk menang 2-1 pada detik-detik akhir melawan Bayern Muenchen.

Solskjaer juga sempat menerbitkan harapan besar pada awal kehadiran sebagai pelatih di Old Trafford. Dia mengukir serangkaian kemenangan. Di bawah restu sang mentor, Sir Alex Ferguson, The Baby Face Assasssin itu meraih kepercayaan keluarga besar.

Baca juga: Resep Makanan Enak, Cara Membuat Chicken Curry Ramen dengan Bumbu Rumahan

Baca juga: The Great Asia Africa is a Tourist Destination in Lembang

Kucuran dana besar, antara lain untuk mendatangkan Bruno Fernandes, Sancho, dan Ronaldo memproyeksikan tim Solskjaer sdebagai salah sstu kandidat juara.

Namun, lima laga terakhir musim 2020-2021 meluruhkan semua. Selain kekalahan, dia juga dibanjiri kritik: MU-nya Solskjaer belum punya “identitas” permainan.

Tanpa kemenangan dari rentetan lima laga, dipuncaki kekalahan 0-5 dari Liverpool, memunculkan spekulasi kencang. Sejumlah nama diapungkan sebagai calon pengganti. Mulai dari Antonio Conte, Zinedine Zidane, Ernesto Valverde, Ryan Giggs, dan Laurent Blanc. Conte, yang dikenal selalu memberi gelar bagi tim yang diasuh, bahkan sudah mengisyaratkan siap bergabung.

Filosofi dan Identitas

Sir Alex lengser pada 2013, dan belum satu pun penerus yang mampu memberi trofi liga. Pun tak tampak menjaga filosofi. Berturut-turut David Moyes, Ryan Giggs (sebagai karketer), Jose Mourinho, dan Louis van Gaal, belum menunjukkan kembalinya identitas MU sebagai tim yang konsisten meraih posisi empat besar pada era Ferguson.

Solskjaer hadir, dan sempat membuncahkan harapan. Eks striker yang dijuluki “super-sub” itu tidak memiliki jejak mentereng kepelatihan. Sentuhannya di Cardiff City biasa-biasa saja. Dia hanya bermodal dukungan Fergie dan relasi kultural memahami MU luar - dalam.

Baca juga: Resep Makanan Enak, Cara Membuat Chicken Curry Ramen dengan Bumbu Rumahan

Baca juga: The Great Asia Africa is a Tourist Destination in Lembang

Dari rentang pensiun Air Alex, setiap pelatih yang hadir selalu membersitkan asa. Moyes, yang lumayan mengangkat permainan Everton, sempat diklaim cocok. Mourinho yang sukses di semua klub asuhannya, diidamkan dan mengidamkan bakal ber-chemistry dengan karakter MU.

 Van Gaal sebagai pelatih bereputasi juga dinilai cocok untuk membangkitkan Setan Merah. Nyatanya, pelatih asal Belanda itu juga mental. Lalu hadirlah Solskjaer yang sempat mengembuskan harapan, namun pada musim ketiganya, performa tim mulai tidak stabil. Harry Maguire dkk belum mampu memperlihatkan kekuatan karakter.

Kemenangan atas The Spurs mungkin mengurangi koor “Ole out”. Suara-suara itu menggema ketika kekalahan memalukan dari Liverpool dianggap sebagai batas kesabaran.

Apakah kemenangan di markas Tottenham akan mengurangi tekanan?

Boleh jadi, tetapi evaluasinya mungkin juga akan menyentuh realitas, betapa kehadiran Ronaldo dan para bintang incaran belum mampu mengangkat performa tim.

Manajemen MU mungkin juga mempertimbangkan: apakah nama-nama pelatih yang diajukan bakal menjamin mengembalikan kejayaan?

Laga-laga krusial akan menjadi penentu nasib Solskjaer. Apabila konsisten ketika menghadapi Manchester City dan Atalanta di Liga Champions, masa depan Ole mungkin akan tetap oke.

-- Amir Machmud NS, wartawan senior,kolumnis sepak bola, dan penulis buku.

Baca juga: Resep Makanan Enak, Cara Membuat Chicken Curry Ramen dengan Bumbu Rumahan

Baca juga: The Great Asia Africa is a Tourist Destination in Lembang

 

 


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait